•  
  • Adat Basandi Syarak | Syarak Basandi Kitabullah
Sabtu, 27 Agustus 2011 - 22:37:24 WIB
Kain Tradisional Minangkabau Dipamerkan di Museum Nasional
Diposting oleh : Administrator
Kategori: pariwisata - Dibaca: 941 kali

Kain tradisional merupakan salah satu dari hasil kebudayaan masyarakat Minangkabau, Sumatera Barat (Sumbar) yang khas, unik, indah, dan sarat dengan makna simbolis. Puluhan corak dan motif kain tradisional Minangkabau berusia ratusan tahun dipamerkan di Museum Nasional, Jakarta, sejak Senin (7/4) – Rabu (30/4).

Puluhan kain tradisional berusia ratusan tahun yang dipamerkan dalam pameran bertajuk Pesona Kain Tradisional Minangkabau ini, merupakan koleksi Museum Nasional Indonesia, Museum Adityawarman, Sumbar, dan Anjungan Sumbar, Taman Mini Indonesia Indah (TMII).

Kepala Museum Nasional, Retno Sulistianingsih mengatakan, selain kain tradisional, dalam pameran ini juga dipamerkan miniatur rumah gadang (rumah adat masyarakat Sumbar, Red), serta ukiran yang biasa terdapat pada kayu rumah gadang, pelaminan, pakaian pengantin dari beberapa suku di Minangkabau, dan lain-lain.

“Sebenarnya jumlah benda-benda adat dari masyarakat Minangkabau lebih banyak dari yang ada di sini, tapi karena keterbatasan tempat, maka kami tidak bisa memajang semuanya,” kata Retno.

Retno mengatakan, kain dan baju yang dipamerkan dalam pameran ini merupakan hasil kerajinan masyarakat Minangkabau dengan cara ditenun, disulam, maupun disungkit (songket).

Menurut Retno, pameran ini digelar sebagai bagian dari rangkaian kegiatan Visit Indonesia Year 2008 (Tahun Kunjungan Indonesia). Selain itu juga merupakan langkah awal dari pameran besar bertajuk History and Cultures of Sumatera: Diversity and Dynamics (Sejarah dan Kebudayaan Sumatera, Red) yang akan diselenggarakan pada tahun 2009, di Museum Singapura dan Museum Prancis.

“Pameran kali ini juga digelar untuk menyambut Hari Ulang Tahun Museum Nasional ke-230, yang jatuh pada tanggal 24 April 2008. Sedangkan pameran tahun depan merupakan kerjasama panjang Shared Cultural Heritage (SCH), antara Museum Nasional Indonesia dengan Rijkmuseum voor Volkenkunde, Leiden, Belanda,” ungkapnya.

Kepala Museum Adityawarman, Sumbar. Usria Dhavida mengatakan, tradisi tenun sutera dan songket diperkenalkan oleh pedagang Arab, India, dan Tionghoa yang menguasai perdagangan di Asia Tenggara, melalui Selat Malaka ke pelabuhan-pelabuhan di Sumatera dan Pantai Utara Jawa.

Kain songket Minangkabau, tutur Usria, memiliki gaya dan corak sendiri walaupun mempunyai desain motif yang sama dengan daerah lain. Kain-kain tenun dengan desain benang emas dan perak atau yang disebut songket, terdiri atas dua macam.

“Orang mengenal dua jenis kain songket, yaitu kain songket balapak, yaitu kain songket yang seluruh permukaan kainnya disongket benang emas, atau perak yang rapat dan padat,” urainya.

Sementara kain songket dengan benar emas atau perak yang motifnya tersebar atau berserakan, lanjut Usria, disebut sebagai kain songket batabua atau bertabur. Jenis songket seperti ini juga disebut songket babintang, namun tidak semua wilayah di Minangkabau sama penyebutannya.p align=”justify”>”Karena di Payakumbuh dan Tanah Datar disebutnya sebagai kain sarek. Sarek artinya sarat yang berarti kain songket yang dipenuhi dengan ragam hias benang emas atau perak yang penuh,” jelasnya.

Adat Istiadat

Usria mengatakan, selain kain songket yang telah terkenal hingga ke berbagai belahan dunia, masyarakat Minangkabau juga dikenal ahli dalam membuat kain sulam atau bordir dengan menggunakan benang emas. Seni kerajinan ini diadaptasi dari pengaruh budaya Tionghoa, yang kemudian dijadikan oleh masyarakat Minangkabau sebagai bagian dari adat istiadat yang mereka gunakan dalam berbagai upacara adat.

“Pada awal abad ke-19 sulaman diproduksi secara besar-besaran pada kain katun di daerah Silungkang. Desa ini memproduksi kain penutup makanan dan wadah kuningan yang akan digunakan untuk upacara makan sirih pada upacara adat,” ujarnya.

Menurut Usria, corak atau motif yang dituangkan dalam kain sulam maupun songket, biasanya diambil dari alam lingkungan daerah para perajin, seperti flora dan fauna. Motif flora dan fauna biasanya berbentuk sulur-sulur bunga atau daun, pucuk rebung, buah manggis, ular, naga terbang, itik, dan sebagainya.

“Masing-masing motif dan corak tersebut memiliki filosofi atau arti simbolis dalam kehidupan masyarakat Minangkabau. Misalnya motif pucuk rebung, mengandung simbol bahwa anak laki-laki Minangkabau harus seperti bambu. Ketika masih menjadi muda, dia berguna (dapat dijadikan sayur rebung, Red), dan saat tua dihormati. Maksudnya ketika sudah tua, dia berada pada posisi siap menolong sebagai pangulu atau kepala adat yang dihormati dan panutan bagi masyarakatnya,” jelasnya.

Direktur Jenderal Sejarah dan Purbakala, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, Hari Untoro Dradjat mengatakan, pameran ini diharapkan dapat meningkatkan minat kalangan muda untuk mempelajari dan mengetahui tentang seni dan budaya daerah-daerah di Indonesia, khususnya Minangkabau.

“Selain itu adanya pameran ini juga diharapkan akan merangsang para pengrajin tenun kain tradisional untuk menghasilkan karya yang semakin baik. Terlebih karena kerajinan kain juga merupakan bagian dari ekonomi kreatif atau usaha kecil dan menengah (UKM) berbasis budaya, yang patut didukung dan dilestarikan,” ujarnya.

Kepala Dinas Pariwisata Seni dan Budaya, Provinsi Sumbar, H James Hellyward, mengatakan, kain songket bagi masyarakat Minangkabau telah menjadi bagian dari kehidupan mereka sehari-hari, serta untuk melengkapi upacara adat.

“Kain untuk upacara adat lebih berkesan mewah, baik warna maupun motif pada kain tersebut,” imbuhnya.

Motif yang terdapat pada kain tenun maupun sulaman, jelas James, tidak berbeda dengan motif ukiran yang terdapat pada rumah gadang. Seperti halnya beberapa daerah yang terdapat di Indonesia, Minangkabau juga banyak mendapat pengaruh budaya dari negara lain, seperti Eropa, India, Tionghoa, dan Arab Sudi.

“Hal itu dapat terlihat pada beberapa seni karya Minang, seperti motif mahkota, tulisan Arab pada ukiran rumah gadang, motif kaligrafi pada songket, motif swastika, motif Burung Hong dari Tiongkok. Sementara pelaminan dan pakaian pengantin Sumbar, merupakan suatu perpaduan dari pengaruh budaya Eropa dan Tionghoa,” tandasnya. [Y-6] sp/yumeldasari chaniago

Sumber : Suara Pembaharuan Online



0 Komentar :


Isi Komentar :
Nama :
Website :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)